Saham Asia melemah mengikuti Wall Street di hari Kamis, mengisyaratkan bahwa ketegangan dagang AS-China tampaknya telah menekan selera risiko. Investor saham kehilangan arah di saat menunggu perkembangan baru yang dapat memberi pertanda mengenai arah berikutnya untuk pergerakan pasar global.

Presiden AS Donald Trump tampaknya belum berkeinginan meredakan ketegangan dengan berbagai ekonomi besar. Ia mengulangi kritik terhadap Jerman mengenai pengeluaran militer dan pipa gas dengan Rusia. Pasar mulai terbiasa dengan peningkatan ketegangan global, sentimen risiko tetap mudah diombang-ambing oleh potensi memburuknya hubungan antar negara besar. Apabila retorika tajam Trump terwujud menjadi risiko negatif bagi perdagangan global, sentimen pasar yang sudah rapuh akan sangat terpukul, dan dapat kembali memicu aksi jual bagi aset berisiko.

Ketegangan meningkat di OPEC+ karena prospek permintaan global memburuk, Minyak terperosok

Futures Brent menguji level psikologis $60/bbl setelah kehilangan sekitar 5.5 persen selama tiga hari berturut-turut. Penurunan ini terjadi karena persediaan minyak AS meningkat, sedangkan ketegangan dagang AS-Tiongkok memburuk dan berisiko memperlambat pertumbuhan global. Pasar berharap bahwa penurunan harga minyak akan cukup bagi para anggota OPEC+ untuk mengatasi ketegangan di dalam kartel ini dan menyatukan fokus pada tugas yang paling mendesak - menyeimbangkan kembali pasar global dan membuat batas bawah harga minyak.

Penurunan minyak belum lama ini menandakan bahwa para produsen OPEC+ tidak punya banyak pilihan selain memperpanjang program pemangkasan pasokan di enam bulan terakhir tahun ini. Apabila permintaan global semakin menurun walaupun pemangkasan pasokan diperpanjang, keadaan ini dapat menandai kembalinya situasi oversuplai yang dapat menyebabkan minyak kehilangan sisa peningkatan harga yang sudah didapat sejak awal tahun.

Transisi kepemimpinan Inggris menambah ketidakpastian bagi Pound

Pound telah berada di level 1.27 terhadap Dolar AS sejak pekan lalu. Investor menunggu episode berikutnya dalam drama politik Inggris, setelah Partai Konservatif menggelar beberapa putaran voting di hari Kamis untuk berupaya mencari pengganti Theresa May. Transisi kepemimpinan Inggris ini menambah ketidakpastian bagi prospek Pound hingga Perdana Menteri baru terpilih, kemungkinan pada akhir Juli.

Apabila pasar merasa bahwa pendukung Brexit garis keras lebih mungkin terpilih untuk mengambil alih 10 Downing Street, GBPUSD mungkin menguji level 1.244 dan support yang lebih kuat mungkin berada di level psikologis 1.20. Kita belum tahu bagaimana Perdana Menteri baru akan mengatasi segala tantangan yang dihadapi May dalam mencapai kesepakatan Brexit yang dapat diterima oleh semua pemangku kepentingan. Ketidakpastian ini memastikan bahwa Pound akan tetap sensitif terhadap isu politik menuju tenggat waktu Brexit yaitu 31 Oktober. Brexit tanpa kesepakatan tetap menjadi skenario terburuk bagi pasar.

Sanggahan: Isi dari artikel ini terdiri dari pendapat-pendapat pribadi dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berupa nasihat investasi pribadi dan/atau lainnya dan/atau suatu penawaran dari dan/atau permohonan untuk transaksi pada instrumen keuangan dan/atau sebuah jaminan dan/atau prediksi atas kinerja di masa depan. ForexTime (FXTM), para afiliasinya, agen, direktur, petugas atau pegawainya tidak memberikan jaminan atas akurasi, keabsahan, batas waktu atau keutuhan dari informasi atau data yang disediakan dan tidak memikul tanggung jawab atas semua kerugian yang dapat timbul dari segala investasi yang didasarkan pada hal tersebut.