Indonesia akan mengumumkan data penjualan ritel dan pertumbuhan kredit terbaru pekan ini, di tengah optimisme mengenai negosiasi dagang AS-Tiongkok. Investor akan terus memperhatikan apakah penjualan ritel Februari dan pertumbuhan kredit Maret terkena dampak kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global. Rupiah kemungkinan besar akan menguat apabila data ekonomi domestik melampaui ekspektasi, namun mata uang domestik Indonesia akan terus dipengaruhi oleh sejumlah faktor penggerak eksternal seperti sentimen global dan valuasi Dolar.

Aset berisiko menguat pasca rilis laporan lapangan kerja non-pertanian (NFP) AS. Penambahan 196k lapangan kerja melampaui estimasi pasar yaitu 180k, dan data Februari direvisi sedikit lebih tinggi menjadi 33k dari 20k. Penambahan lapangan kerja ini lebih dari cukup untuk mempertahankan tingkat pengangguran di dekat level terendah 50 tahun apabila momentum di pasar tenaga kerja dapat dipertahankan selama beberapa bulan mendatang. Namun ini bukanlah satu-satunya informasi yang memperkuat bulls saham. Pertumbuhan upah melambat ke 3.2% dari level Februari yang tercepat dalam satu dekade yaitu 3.4%. Data lapangan kerja yang kuat dan pertumbuhan upah yang melambat menyiratkan dua hal. Ini mengonfirmasikan bahwa AS masih terus mengalami pertumbuhan, walau mungkin dalam siklus akhir, dan tekanan non-inflasi akan membuat Fed mempertahankan suku bunga, keduanya merupakan elemen yang baik untuk pasar bull. 

Pekan ini kita akan tahu lebih lanjut mengapa Federal Reserve memutuskan untuk menghentikan kenaikan suku bunga di 2019. Pada hari Rabu, Fed akan menerbitkan hasil rapat Maret, dan mungkin pertanyaan terbesarnya adalah: apakah Fed punya informasi yang belum diketahui investor? Pasar saat ini memperkirakan peluang 60% pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun, dan Presiden Trump terus mendorong penurunan suku bunga secara agresif. Apabila tekanan inflasi melemah, Fed mungkin mempertimbangkan saran Trump, tapi saat ini tidak ada isyarat penurunan harga.

Kesan dari negosiasi dagang AS-Tiongkok tetap positif walaupun kesepakatan belum tercapai. Pejabat dari kedua belah pihak akan melanjutkan percakapan pekan ini dengan harapan menyelesaikan masalah yang masih mengganjal dan mengakhiri ketegangan dagang. Walau demikian, harga pasar telah merefleksikan terobosan selama beberapa bulan, jadi kesepakatan yang tercapai harus cukup meyakinkan untuk dapat memperkuat aset berisiko.

Investor juga akan mencermati musim pendapatan AS - JP Morgan dan Wells Fargo akan memulai musim pada hari Jumat. Menurut FactSet, pendapatan diprediksi akan menurun 4.2% di Q1, dan ini akan menjadi penurunan YoY pertama sejak Q2 2016. Penurunan pendapatan ini sudah terefleksikan pada harga, namun faktor kejutan dan informasi lebih lanjut akan dapat menggerakkan Wall Street. 

Di pasar komoditas, Brent dan WTI mencatat level tertinggi baru untuk tahun 2019. Pemangkasan produksi berkelanjutan dari OPEC dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela adalah penggerak utama harga di sepanjang tahun ini. Walau begitu, peningkatan terkini terjadi karena memburuknya pertempuran di Libya yang mengancam gangguan pasokan lebih lanjut. Apabila pasokan dari Libya menurun drastis dalam beberapa hari mendatang dan OPEC tidak bertindak, harga minyak dapat meningkat 5-10% dalam dua pekan mendatang.

Sanggahan: Isi dari artikel ini terdiri dari pendapat-pendapat pribadi dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berupa nasihat investasi pribadi dan/atau lainnya dan/atau suatu penawaran dari dan/atau permohonan untuk transaksi pada instrumen keuangan dan/atau sebuah jaminan dan/atau prediksi atas kinerja di masa depan. ForexTime (FXTM), para afiliasinya, agen, direktur, petugas atau pegawainya tidak memberikan jaminan atas akurasi, keabsahan, batas waktu atau keutuhan dari informasi atau data yang disediakan dan tidak memikul tanggung jawab atas semua kerugian yang dapat timbul dari segala investasi yang didasarkan pada hal tersebut.