Optimisme terhadap keadaan ekonomi Indonesia meningkat pekan ini setelah data resmi menunjukkan bahwa pertumbuhan mencapai level tertinggi lima tahun yaitu 5.17% di 2018.

Ekspansi ekonomi yang mengesankan ini digerakkan oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah. Ekonomi Indonesia terus berkembang dan menunjukkan ketangguhan terhadap keadaan global yang tidak menguntungkan, sehingga prospek masih terlihat sangat menjanjikan. Sentimen beli terhadap Rupiah dapat semakin membaik di tengah keadaan domestik yang positif. Rupiah dapat semakin menguat apabila Bank Indonesia memberi isyarat kenaikan suku bunga lebih lanjut di 2019. Dari aspek teknis, USDIDR kemungkinan akan menantang 13840 apabila berhasil menyentuh 13900.

Dolar AS jalani reli enam hari

Setelah kinerja yang luar biasa di 2018, reli Dolar diperkirakan akan mengalami tekanan hebat di 2019. Tapi perkiraan ini bisa saja salah.

Berbagai faktor mendukung mata uang AS tahun lalu, termasuk ekspansi ekonomi yang kuat, stimulus fiskal yang meningkatkan imbal hasil di pasar obligasi negara, Federal Reserve yang hawkish, dan repatriasi dana oleh sejumlah perusahaan AS. Semua faktor ini sudah tidak bermain, dan Fed yang berbalik arah pekan lalu hampir memastikan bahwa kebijakan moneter tidak berkontribusi lagi pada kekuatan Dolar.

Keyakinan bahwa kebijakan moneter global akan mulai mengalami konvergensi dengan AS adalah elemen penting bagi pelemahan Dolar yang diprediksi akan terjadi. Kejutannya, Dolar AS menguat 0.70% terhadap mata uang mayor lainnya sejak Fed berubah menjadi sangat dovish pada 30 Januari.

Kekuatan Dolar selama beberapa hari terakhir mungkin tidak disebabkan oleh langkah Fed. Walau begitu , dalam analisis kurs mata uang, kita harus membandingkannya dengan mata uang lainnya. Sejauh ini tampaknya tidak ada mata uang lain yang memiliki keunggulan kompetitif, sehingga Dolar menjadi mata uang yang lebih dipilih.

Hampir semua bank sentral mengakui bahwa masa sulit sedang menanti. Perkembangan terkini adalah Bank Sentral Australia RBA yang mengejutkan pasar kemarin saat Gubernur Philip Lowe membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga. Komentarnya menghantam Dolar Australia, menjadikannya turun 1.8% terhadap USD, di hari dengan kinerja paling buruk sejak Juni 2016. Berbagai risiko global termasuk faktor utama yang menyebabkan perubahan arah kebijakan.

Keadaan Eropa tidak lebih baik. Italia sudah memasuki resesi teknis. Jerman mungkin menyusul dengan kesulitan yang dihadapi industri otomotif setempat, dan demonstrasi Yellow Vest Prancis sangat memukul ekonomi domestik yang sudah melambat. Karena itu, tidak mengherankan apabila sentimen investor di Zona Euro merosot ke level terendah dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Sorotan mata uang - GBPUSD

GBPUSD mulai kehilangan peningkatan yang didapat sejauh ini di 2019, tergelincir ke bawah level psikologis penting 1.30. Pasar tampaknya tetap bearish terhadap Pound karena kurangnya perkembangan positif dalam negosiasi Brexit. Theresa May bersiap untuk bertolak ke Brussels di hari Kamis, beberapa hari menjelang batas waktu yang ia buat yaitu 13 Februari untuk mencapai kesepakatan baru. Pound dapat melemah apabila PM May kembali ke London dengan tangan kosong tanpa kemajuan baru mengenai Brexit.

Sanggahan: Isi dari artikel ini terdiri dari pendapat-pendapat pribadi dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berupa nasihat investasi pribadi dan/atau lainnya dan/atau suatu penawaran dari dan/atau permohonan untuk transaksi pada instrumen keuangan dan/atau sebuah jaminan dan/atau prediksi atas kinerja di masa depan. ForexTime (FXTM), para afiliasinya, agen, direktur, petugas atau pegawainya tidak memberikan jaminan atas akurasi, keabsahan, batas waktu atau keutuhan dari informasi atau data yang disediakan dan tidak memikul tanggung jawab atas semua kerugian yang dapat timbul dari segala investasi yang didasarkan pada hal tersebut.