Rupiah menguat terhadap Dolar yang melemah di hari Kamis setelah hasil rapat Fed menyampaikan bahwa sebagian besar pejabat Fed mendukung pendekatan "sabar" terkait kebijakan moneter 2019. Dolar berpotensi melemah karena spekulasi pemangkasan suku bunga tahun ini, dan ini adalah kabar gembira bagi mata uang pasar berkembang seperti Rupiah.

Perhatian investor akan tertuju pada data pertumbuhan kredit Indonesia yang dapat memberi gambaran mengenai perubahan total kredit dan sewa di bulan Maret. Walaupun data pertumbuhan kredit memengaruhi Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan, namun faktor eksternal seperti perkembangan dagang dan masalah pertumbuhan global tetap memegang peran penting dalam valuasi Rupiah pekan ini.

Pasar saham Asia masih berada di area merah di hari Kamis di saat investor berusaha mencerna perkembangan terkini mengenai prospek ekonomi global dan keputusan bank sentral. Presiden ECB Mario Draghi menekankan kembali bahwa ekonomi Zona Euro tetap menghadapi risiko negatif dan ECB berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini setidaknya hingga akhir 2019. Hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve bulan Maret tidak menampilkan indikasi pemangkasan suku bunga, namun beberapa pejabat mengatakan bahwa langkah berikutnya yang diambil Fed mungkin ke arah mana saja.

Dorongan yang didapat pasar saham dari keputusan bank sentral sepertinya mulai melemah, dan S&P 500 kini berjarak 1.7% dari rekor level tertinggi. Investor yang mengharapkan pemangkasan suku bunga mungkin belum akan melihatnya dalam waktu dekat, dan mereka sebaiknya tidak terus mengandalkan kebijakan moneter untuk memengaruhi saham.

Investor perlu mengalihkan perhatian ke musim pendapatan yang secara tak resmi akan dimulai esok. Dampak pemangkasan suku bunga dan peningkatan belanja pemerintah dari 2018 mulai melemah, dan ini saatnya kita melihat bagaimana performa perusahaan sendiri. Pendapatan diperkirakan akan menurun 4.2% pada kuartal pertama 2019 menurut FactSet. Walau demikian, apabila 65-70% perusahaan, seperti biasa, berhasil melampaui estimasi Wall Street, maka kita mungkin melihat sedikit pertumbuhan pendapatan.

Salah satu metrik penting yang harus dipantau investor adalah margin profit, terutama meninjau peningkatan pertumbuhan upah di Q1. Apabila perusahaan tidak mampu meneruskan biaya tambahan kepada konsumen, maka kuartal mendatang mungkin akan semakin melemah.

Kita juga sangat perlu mengetahui pergerakan S&P 500 berikutnya. Indeks ini telah menguat 15.2% sejak awal tahun, dan agar reli dapat berlanjut, investor perlu yakin bahwa kita tidak akan menghadapi resesi pendapatan. Fed yang dovish saja tidak cukup untuk mempertahankan reli.

Penundaan Brexit gagal perkuat Pound

Penundaan kedua Brexit telah diberikan hingga 31 Oktober, dan peninjauan akan dilakukan pada 30 Juni. Berita gembiranya, Brexit tanpa kesepakatan berhasil dihindari untuk saat ini; berita buruknya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Sejauh ini, sepertinya semua sekadar tertunda tanpa ada kejelasan. Ini mengakibatkan penurunan tajam volatilitas tersirat Pound, namun tidak membantu memperkuat mata uang Inggris. Alasannya, risiko sekadar diperpanjang, bukan teratasi. Pergerakan Pound berikutnya sangat sulit diprediksi karena semua opsi dapat terjadi, termasuk Brexit tanpa kesepakatan atau tidak ada Brexit sama sekali.

Sanggahan: Isi dari artikel ini terdiri dari pendapat-pendapat pribadi dan tidak seharusnya ditafsirkan sebagai sesuatu yang berupa nasihat investasi pribadi dan/atau lainnya dan/atau suatu penawaran dari dan/atau permohonan untuk transaksi pada instrumen keuangan dan/atau sebuah jaminan dan/atau prediksi atas kinerja di masa depan. ForexTime (FXTM), para afiliasinya, agen, direktur, petugas atau pegawainya tidak memberikan jaminan atas akurasi, keabsahan, batas waktu atau keutuhan dari informasi atau data yang disediakan dan tidak memikul tanggung jawab atas semua kerugian yang dapat timbul dari segala investasi yang didasarkan pada hal tersebut.